Tujuan Pernikahan Menurut Islam

Tujuan Pernikahan Menurut Islam


Pernikahan wajib hukumnya bagi seorang muslim, nah kenapa pernikahan itu di wajibkan!.
Inilah beberapa sudut pandang pernikahan menurut islam yang membuat pernikahan itu menjadi di wajibkan bahkan boleh di segerakan untuk mencegah timbulnya zinah.

Pernikahan di tujukan untuk tuntutan Naluri Manusia yang Asasi, pernikahan merupakan fitrah manusia, maka jalan yang sah untuk memenuhi kebutuhan naluri terhadap lawan jenis adalah dengan ‘aqad nikan, pernikahan juga di tujukan untuk menghindari zinah. Seperti kita ketahui bersama, di zaman modern seperti sekarang ini budaya ke barat-baratan justru menggerus budaya timur yang sejatinya memiliki akhlakul karimah baik dan taat akan tuntunan agama.

Kebiasaan berpacaran bahkan kumpul kebo, melacur, berzina, lesbi, homo, dan lain sebagainya sudah marak terjadi di negara islam khususnya indonesia, hukum pernikahan ada untuk menghindari itu semua, Allah telah membedakan antara manusia dengan binatang dengan aturan-aturan dan pentunjuk dalam kitab suci Al-Quran, yang denganya melarang manusia bersetubuh dengan cara binatang, karena manusia makhluk sempurna, makhluk yang di beri akal dan hati.

Tujuan Pernikahan Menurut Islam

Untuk Membentengi Akhlak Dari Perbuatan Kotor
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ﻳَﺎ ﻣَﻌْﺸَﺮَ ﺍﻟﺸَّﺒَﺎﺏِ ﻣَﻦِ ﺍﺳْﺘَﻄَﺎﻉَ ﻣِﻨْﻜُﻢُ ﺍﻟْﺒَﺎﺀَﺓَ ﻓَﻠْﻴَﺘَﺰَﻭَّﺝْ، ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﺃَﻏَﺾُّ ﻟِﻠْﺒَﺼَﺮِ ﻭَﺃَﺣْﺼَﻦُ ﻟِﻠْﻔَﺮْﺝِ، ﻭَﻣَﻦْ ﻟَﻢْ ﻳَﺴْﺘَﻄِﻊْ ﻓَﻌَﻠَﻴْﻪِ ﺑِﺎﻟﺼَّﻮْﻡِ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻟَﻪُ ﻭِﺟَﺎﺀٌ .
“Wahai para pemuda! Barangsiapa di antara kalian berkemampuan untuk menikah, maka menikahlah, karena nikah itu lebih menundukkan pandangan, dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia shaum (puasa), karena shaum itu dapat membentengi dirinya.”[1]
Sebagai mana sabda Rasulullah diatas yang dengan tegas menjelasan bahwa di syari'atkanya pernikahan tidak lain adalah untuk membentengi manusia dari perbuatan kotor dan keji, menundukan pandangan manusia terhadap yang belum makhromnya.

Menegakkan Rumah Tangga Yang Islamiah
Rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warrohmah adalah anjuran pernikahan menurut islam, sepasang suami istri telah di bagi-bagi hak dan kewajibanya dalam hadist maupun firman allah agar mereka senantiasa berkeluarga sesuai syari'at islam, meskipun demikian islam tetap membenarkan adanya thalaq (perceraian), bila mana suami isteri sudah tidak sanggup lagi menegakkan batas-batas Allah, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-baqoroh.
ﺍﻟﻄَّﻠَﺎﻕُ ﻣَﺮَّﺗَﺎﻥِ ۖ ﻓَﺈِﻣْﺴَﺎﻙٌ ﺑِﻤَﻌْﺮُﻭﻑٍ ﺃَﻭْ ﺗَﺴْﺮِﻳﺢٌ ﺑِﺈِﺣْﺴَﺎﻥٍ ۗ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﺤِﻞُّ ﻟَﻜُﻢْ ﺃَﻥْ ﺗَﺄْﺧُﺬُﻭﺍ ﻣِﻤَّﺎ ﺁﺗَﻴْﺘُﻤُﻮﻫُﻦَّ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﺇِﻟَّﺎ ﺃَﻥْ ﻳَﺨَﺎﻓَﺎ ﺃَﻟَّﺎ ﻳُﻘِﻴﻤَﺎ ﺣُﺪُﻭﺩَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ۖ ﻓَﺈِﻥْ ﺧِﻔْﺘُﻢْ ﺃَﻟَّﺎ ﻳُﻘِﻴﻤَﺎ ﺣُﺪُﻭﺩَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻓَﻠَﺎ ﺟُﻨَﺎﺡَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻤَﺎ ﻓِﻴﻤَﺎ ﺍﻓْﺘَﺪَﺕْ ﺑِﻪِ ۗ ﺗِﻠْﻚَ ﺣُﺪُﻭﺩُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻓَﻠَﺎ ﺗَﻌْﺘَﺪُﻭﻫَﺎ ۚ ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﺘَﻌَﺪَّ ﺣُﺪُﻭﺩَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻓَﺄُﻭﻟَٰﺌِﻚَ ﻫُﻢُ ﺍﻟﻈَّﺎﻟِﻤُﻮﻥَ
“Thalaq (yang dapat dirujuk) itu dua kali. (Setelah itu suami dapat) menahan dengan baik, atau melepaskan dengan baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali keduanya (suami dan isteri) khawatir tidak mampu menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu (wali) khawatir bahwa keduanya tidak mampu menjalankan hukum-hukum Allah, maka keduanya tidak berdosa atas bayaran yang (harus) diberikan (oleh isteri) untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang-orang zhalim.” [Al-Baqarah : 229]
Apa bila keduanya sudah tidak sanggup lagi melaksanakan syari’at Allah SWT yang telah di terangkan dalam firman-firmanya.

Allah SWT juga mengatur tentang hukum rujuk untuk sesorang yang sudah bercerai atau memberikan talaq, sebagaimana yang disebutkan dalam surat Al-Baqarah berikut,
ﻓَﺈِﻥْ ﻃَﻠَّﻘَﻬَﺎ ﻓَﻠَﺎ ﺗَﺤِﻞُّ ﻟَﻪُ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪُ ﺣَﺘَّﻰٰ ﺗَﻨْﻜِﺢَ ﺯَﻭْﺟًﺎ ﻏَﻴْﺮَﻩُ ۗ ﻓَﺈِﻥْ ﻃَﻠَّﻘَﻬَﺎ ﻓَﻠَﺎ ﺟُﻨَﺎﺡَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻤَﺎ ﺃَﻥْ ﻳَﺘَﺮَﺍﺟَﻌَﺎ ﺇِﻥْ ﻇَﻨَّﺎ ﺃَﻥْ ﻳُﻘِﻴﻤَﺎ ﺣُﺪُﻭﺩَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ۗ ﻭَﺗِﻠْﻚَ ﺣُﺪُﻭﺩُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻳُﺒَﻴِّﻨُﻬَﺎ ﻟِﻘَﻮْﻡٍ ﻳَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ
“Kemudian jika dia (suami) menceraikannya (setelah thalaq yang kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya sebelum dia menikah dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (suami pertama dan bekas isteri) untuk menikah kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah ketentuan-ketentuan Allah yang diterangkan-Nya kepada orang-orang yang berpengetahuan.” [Al-Baqarah : 230].
Dua ayat tersebut telah menjelaskan tujuan pernikahan sejatinya adalah untuk membina rumah tangga dengan aturan-aturan berupa hak dan kewajiban sepasang suami istri, hukum hak dan kewajiban menurut Allah SWT.

Menanggapi fenomena pernikahan jaman sekarang, orang tua atau bahkan pemudanya sendiri banyak yang menitik beratkan materi dan jabatan sebagai tolak ukur pasangan yang ideal, islam sebenarnya telah memberi petunjuk tentang pasangan hidup yang ideal.
Berikut adalah pasangan hidup yang ideal menurut islam.

Kafa'ah (kesepadanan)
Kafa'ah menurut pandangan islam
Agama Islam sangat memperhatikan kafa-ah atau kesamaan, kesepadanan atau sederajat dalam hal pernikahan. Dengan adanya kesamaan antara sepasang suami isteri tersebut, maka usaha untuk mendirikan dan membina rumah tangga yang Islami  insya Allah akan terwujud, dan sejatinya Kafa-ah menurut Islam hanya diukur dengan kualitas iman dan taqwa serta akhlak seseorang.
Beda halnya dengan yang terjadi di sekitar kita dewasa ini, pengaruh buruk materialisme telah banyak menimpa orang tua. Tidak sedikit orang tua, pada zaman sekarang, yang selalu menitikberatkan pada kriteria banyaknya harta, keseimbangan kedudukan, status sosial dan keturunan saja dalam memilih calon jodoh putera-puterinya. Masalah kufu’ (sederajat, sepadan) hanya diukur berdasarkan materi dan harta saja. Sementara pertimbangan agama tidak mendapat perhatian yang serius. Allah SWT memandang derajat seseorang sama, tidak ada perbedaan derajat dari keduanya melainkan derajat taqwanya.
Allah berfirman:
ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺇِﻧَّﺎ ﺧَﻠَﻘْﻨَﺎﻛُﻢْ ﻣِﻦْ ﺫَﻛَﺮٍ ﻭَﺃُﻧْﺜَﻰٰ ﻭَﺟَﻌَﻠْﻨَﺎﻛُﻢْ ﺷُﻌُﻮﺑًﺎ ﻭَﻗَﺒَﺎﺋِﻞَ ﻟِﺘَﻌَﺎﺭَﻓُﻮﺍ ۚ ﺇِﻥَّ ﺃَﻛْﺮَﻣَﻜُﻢْ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃَﺗْﻘَﺎﻛُﻢْ ۚ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻋَﻠِﻴﻢٌ ﺧَﺒِﻴﺮٌ

Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” [Al-Hujuraat : 13]
Bagi mereka yang sekufu’, maka tidak ada halangan bagi keduanya untuk melakukan pernikahan. Wajib bagi para orang tua, pemuda dan pemudi yang masih berorientasi pada hal-hal yang sifatnya materialis dan mempertahankan adat istiadat untuk meninggalkannya dan kembali kepada Al-Qur-an dan Sunnah Nabi yang shahih, sesuai dengan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
ﺗُﻨْﻜَﺢُ ﺍﻟْﻤَﺮْﺃَﺓُ ِﻷَﺭْﺑَﻊٍِ : ﻟِﻤَﺎﻟِﻬَﺎ ﻭَﻟِﺤَﺴَﺒِﻬَﺎ ﻭَﻟِﺠَﻤَﺎﻟِﻬَﺎ ﻭَﻟِﺪِﻳْﻨِﻬَﺎ، ﻓَﺎﻇْﻔَﺮْ ﺑِﺬَﺍﺕِ ﺍﻟﺪِّﻳْﻦِ ﺗَﺮِﺑَﺖْ ﻳَﺪَﺍﻙَ .
“Seorang wanita dinikahi karena empat hal; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang taat agamanya (ke-Islamannya), niscaya kamu akan beruntung.” [2]
Hadits ini menjelas tentang sejatinya lelaki memilih wanita tidak akan jauh dari empat hal tersebut, harta, kecantikan, keturunan ( misal pejabat atau ningrat ), dan agama, tetapi nabiallah Muhammad saw, menekankan pada poin yang ke 4, yaitu tingkat keislamanya, seorang wanita yang shalehah dan taat beribadah pastilah memiliki akhlah dan budi pekerti yang baik, da mereka adalah golongan wanita yang tau tentang kewajiban seorang istri.

Meski demikian bukan berarti menikah bukan dengan wanita shalehah tidak di perbolehkan, di dalam al-quran di jelaskan, bahwasanya laki-laki yang menikahi seorang wanita karena hartanya, kecantikanya atau keturunanya juga di perbolehkan dan sah hukumnya, seperti yang di jelaskan dalam firman Allah berikut ini :
ﺍﻟْﺨَﺒِﻴﺜَﺎﺕُ ﻟِﻠْﺨَﺒِﻴﺜِﻴﻦَ ﻭَﺍﻟْﺨَﺒِﻴﺜُﻮﻥَ ﻟِﻠْﺨَﺒِﻴﺜَﺎﺕِ ۖ ﻭَﺍﻟﻄَّﻴِّﺒَﺎﺕُ ﻟِﻠﻄَّﻴِّﺒِﻴﻦَ ﻭَﺍﻟﻄَّﻴِّﺒُﻮﻥَ ﻟِﻠﻄَّﻴِّﺒَﺎﺕِ
“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempukakinyaah keji (pula). Sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula)…” [An-Nuur : 26]

Kenapa Wanita dan Laki-Laki yang saleh, salehah sangat di anjurkan untuk di nikahi dalam islam?.
Allah berfirman dalam surah Annisa :
ﻓَﺎﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺎﺕُ ﻗَﺎﻧِﺘَﺎﺕٌ ﺣَﺎﻓِﻈَﺎﺕٌ ﻟِﻠْﻐَﻴْﺐِ ﺑِﻤَﺎ ﺣَﻔِﻆَ ﺍﻟﻠَّﻪُ
“…Maka perempuan-perempuan yang shalihah adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (me-reka)…” [An-Nisaa’ : 34]
Lafazh ﻗَﺎﻧِﺘَﺎﺕٌ dijelaskan oleh Qatadah, artinya wanita yang taat kepada Allah dan taat kepada suaminya.[3]
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ﺍَﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻣَﺘَﺎﻉٌ ﻭَﺧَﻴْﺮُ ﻣَﺘَﺎﻉِ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺍﻟْﻤَﺮْﺃَﺓُ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺔُ .
“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah.” [4]
Dalam hadits yang lain, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ﺧَﻴْﺮُ ﺍﻟﻨِّﺴَﺎﺀِ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﺗَﺴُﺮُّﻩُ ﺇِﺫَﺍ ﻧَﻈَﺮَ ﺇِﻟَﻴْﻬَﺎ ﻭَﺗُﻄِﻴْﻌُﻪُ ﺇِﺫَﺍ ﺃَﻣَﺮَ ﻭَﻻَ ﺗُﺨَﺎﻟِﻔُﻪُ ﻓِﻲْ ﻧَﻔْﺴِﻬَﺎ ﻭَﻻَ ﻣَﺎﻟِﻬَﺎ ﺑِﻤَﺎ ﻳَﻜْﺮَﻩُ .
“Sebaik-baik wanita adalah yang menyenangkan suami apabila ia melihatnya, mentaati apabila suami menyuruhnya, dan tidak menyelisihi atas diri dan hartanya dengan apa yang tidak disukai suaminya.” [5]
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
ﺃَﺭْﺑَﻊٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴَّﻌَﺎﺩَﺓِ : ﺍَﻟْﻤَﺮْﺃَﺓُ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺔُ، ﻭَﺍﻟْﻤَﺴْﻜَﻦُ ﺍﻟْﻮَﺍﺳِﻊُ، ﻭَﺍﻟْﺠَﺎﺭُ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺢُ، ﻭَﺍﻟْﻤَﺮْﻛَﺐُ ﺍﻟْﻬَﻨِﻲْﺀُ، ﻭَﺃَﺭْﺑَﻊٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺸَّﻘَﺎﻭَﺓِ : ﺍَﻟْﺠَﺎﺭُ ﺍﻟﺴُّﻮْﺀُ، ﻭَﺍﻟْﻤَﺮْﺃَﺓُ ﺍﻟﺴُّﻮْﺀُ، ﻭَﺍﻟْﻤَﺴْﻜَﻦُ ﺍﻟﻀَّﻴِّﻖُ، ﻭَﺍﻟْﻤَﺮْﻛَﺐُ ﺍﻟﺴُّﻮْﺀُ .
“Empat hal yang merupakan kebahagiaan; isteri yang shalihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman. Dan empat hal yang merupakan kesengsaraan; tetangga yang jahat, isteri yang buruk, tempat tinggal yang sempit, dan kendaraan yang jelek.” [6]
Menurut Al-Qur-an dan As-Sunnah yang shahih.

Ayat - ayat Al-Quran serta hadist -hadist diatas menjelaskan bahwa, betapa sangat beruntungnya seorang laki-laki yang menikahi wanita shalehah, dia seorang muslimah yang taat beribadah, taat kepada Allah, dan taat kepada suami, dia senantiasa mengetahui apa yang harus di kerjakan sebagai seorang istri, dia mengetahuai betapa agungnya sang suami hingga surga berada di telapak kakinya.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Popular Posts