Puisiku, Tinta Hitam Dalam Perjalanan Hati



Tentang perjanalan hati..
Tentang waktu yang tak mungkin kuputar kembali..

Pernah aku merasakan kehilangan..
Melepas apa yang ada dalam genggaman..
Merenggut semua kenangan..
Tak terkecuali segala yang masih dalam angan..

Aku jatuh tersungkur tak karuan..
Menjadi satu bersama ceceran harapan-harapan..
Pada keadaan yang sangat sulit untukku lawan..
Aku menyerah dan mencoba berkawan..
Mataku menatap nanar pada jalan yang ku lanjutkan..
Sakit yang tak terelakan..
Kecewa yang tak bisa lagi dibantahkan..
Menjadi teman hangat dalam perbincangan..

Lenganku memeluk erat hati yg berantakan..
Lalu pada serpihannya kupunguti sesuatu yang tak mungkin kembali kudapatkan..
Darinya yang dulu menjadi penghuni liang-liang ingatan..

Mengapa semua jadi seperti ini..?

Aku terhempas pada ruang hampa..
Diterpa angin yang dahsyat...
Membawaku terbang ke angan bersama masalalu..

Aku rindu masa-masa itu..
Masa dimana aku dan kamu amat dekat..
Tanpa sekat walau terpisah jarak..
Masa yang begitu lucu..
Masa yang begitu indah..
Kau adalah cinta tersempurna yang pernah singgah..
Aku mencintaimu
Dan kau....
Memberikan rasa yang mungkin lebih dari yang aku beri..
Tawa yang menjadi duka..
Suka yang menjadi luka..
Begitupun sebaliknya...!!
Aku berhasil melewati masa itu..

Meski akhirnya aku yang menyudahi..
Namun  hingga kini..
sesalku tak pernah berhenti..
Hatiku berkeping entah jadi berapa..
Berserakan ke antah brantah..
Perlahan ku punguti kepingannya..
Lalu menyatukannya dengan senyuman..
Meyakinkan hati agar tak lagi serapuh benda becah belah..
Dan semua akan baik-baik saja..
Mungkin benar Cinta Seperti hukum pertama thermodinamika..
"Tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan. hanya bisa diubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya."..
Cinta datang dengan sendirinya
Dan dapat berubah menjadi menyakitkan..

Kini aku sendiri..
Meratapi perjalan hati..
Entah sudah berapa banyak cinta yang ku susuri..
Tak satupun sepertimu bidadari..!!
Meski kini kau tlah bersuami..
Cintamu akan ku kenang abadi..
Ketulusanmu tetaplah pelajaran paling berarti...

Detik ini..
Takan lagi aku mencari...
Aku telah lelah patah hati...
Aku sadar..
Aku bukan penilai yang bijak..

Tuhan..
Damaikanlah hati ini..
Ikhlaskan aku untuk menanti..
Sabarkan aku..
Hingga waktu itu tiba..
Saat kau turunkan bidadari..
Untuk hati yang sedang berbenah diri..

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Popular Posts