Menelisik Rekam Jejak Soeharto



Menelisik Rekam Jejak Pemerintahan Soeharto

Eros Djarot (2006:41) dalam buku Siapa Sebenarnya Soeharto: Fakta dan Kesaksian Para Pelaku Sejarah G-30-S/PKI menyebut bahwa Soeharto nyaris dipecat karena menggunakan kuasa militernya sebagai Pangdam Diponegoro untuk memungut uang dari berbagai perusahaan di Jawa Tengah.

Tak hanya itu, Soeharto juga ketahuan melakukan penyelewengan dengan menyelundupkan gula dan kapuk ilegal bersama Bob Hasan dan Liem Sioe Liong.

Kebiasaan buruk dan licik inilah yang kemudian berdampak terhadap bangsa indonesia saat beliau menjadi pemimpin negri ini.

Setelah banyak ahli sejarah menguak informasi tentang sejarah perjalanan hidup Soeharto, banyak orang yang kecewa terhadap beliau, pasalnya selama dia memimpin Negara Republik Indonesia, kebijakan-kebijakan yang ia buat hanya bersifat kemudahan sementara yang kemudian melahirkan penderitaan berkepanjangan, Tidak hanya itu, bahkan sejarah tentang PKI pun banyak yang meragukan kebenaranya, pasalnya soeharto di curigai mempunyai andil dalam gerakan G30/SPKI.

Presiden soekarno yang tengah sakit waktu itu sempat mengatakan kepada Jendral ahmad yani apa bila kondisinya semakin buruk beliau di minta untuk menggantikan posisinya sebagai presiden, pesan bung karno tersebut di sampaikan kepada Jendral Ahmad Yani dua bulan sebelum kejadian penculikan dan pembunuhan 9 jendral yang di buang ke dalam lubang buaya, salah satunya adalah Jendral Ahmad Yani itu sendiri.

Di dalam proses pemerintahanya, soeharto mengeluarkan banyak kebijakan yang merugikan bangsa indonesia, kerja samanya dengan perusahaan-perusahaan asing di nilai tidak memperdulikan masa depan bangsa, soeharto yang mengambil keputusan dan meneken kontrak karya dengan puluhan perusahaan asing bidang energi sumber daya alam, dengan durasi hingga 90 tahun, dan pembagian hasil yang merugikan bangsa Indonesia bahkan tanpa visi ke depan mengenai kebutuhan bangsa ini terhadap BBM, sebut saja Freeport indonesia, yang sudah puluhan tahun mengeruk emas di papua untuk di bawa ke Amerika Serikat, praktis indonesia tidak mendapat keuntungan yang signifikan, indonesia hanya kebagian penyerapan tenaga kerja di daerah sekitar perusahaan saja, sedangkan ke kayaan alamnya semua milik amerika.

Sekarang Indonesia sudah berubah menjadi pengimpor BBM sepenuhnya (net imported), namun lucunya indonesia masih terus aktif di persatuan negara pengekspor minyak, OPEC. Sejatinya Indonesia memang masih produsen minyak, tapi sebagian besar hasilnya diekspor. Itu sesuai kesepakatan yang dulu diteken Soeharto dengan perusahaan-perusahaan asing tersebut. Dan yang lebih memprihatinkan lagi, minyak yang diekspor itulah yang kemudian kita impor.

kediktatoran Soeharto yang anti-demokrasi dan neo-feodal membawa dampak buruk terhadap pola fikir dan hidup masyarakat indonesia, soeharto sangat berkuasa dan memiliki jaringan yang sangat kuat, gabungan dari intelijen militer, intelijen kepolisian, organisasi para-militer, jaringan pengawas kepatuhan di tubuh birokrasi, perpanjangan tangan kekuasaan rezim sampai ke tingkat RT, dan pengendalian melalui organisasi profesi yang cakupannya sampai ke kelompok marginal seperti kaum waria.

Lewat kekuasaan dan jaringanya tersebut soeharto menekan orang-orang yang ingin kritis terhadap pemerintahanya, di lingkungan perguruan tinggi, media massa, kalangan seniman, di tubuh partai politik dan organisasi massa, bahkan sampai ke lembaga-lembaga keagaamaan dan adat. Semuanya harus menunjukkan dan membuktikan kepatuhan terhadapnya, jika tidak sueharto tidak segan-segan mematikan lembaga dan organisasi tersebut.

Belun lagi kasus BLBI alias perampokan ekonomi rakyat lewat kebijakan liberalisasi ekonomi dan sektor keuangan. Kasus BLBI inilah yang menyebabkan perekonomian bangsa indonesia ambruk menjelang kejatuhan Soeharto, dimana hutang-hutang pihak swasta ke luar negeri, yang dijamin Soeharto, menyebabkan nilai mata uang rupiah jatuh hingga mencapai 200%.

Kebijakan sueharto tersebut adalah memasukan Indonesia dalam sistem pasar bebas globa, pada saat APEC diadakan di Indonesia. Kesannya Indonesia sudah sejajar dengan negara-negara maju, tapi yang sebenarnya hal itu merupakan awal dimulainya penderitaan puluhan juta petani di negeri ini. Sebab tak lama kemudian, hasil pertanian dari mancanegara membanjiri pasar domestik, dengan harga lebih murah dan mutu lebih baik sehingga petani kita kalah bersaing.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Popular Posts