Yang Saya Kecewakan Dari Sekolah Di Indonesia



Yang Saya Kecewakan Dari Sekolah Di Indonesia
Sekolah dianggap jadi kewajiban, bukan jalan yang harus di tempuh untuk meraih kesuksesan, murid di didik seperti scrup mesin industri, semuanya serba tersusun, dan minim pengembangan kreatifitas.

Imu pengetahuan yang di ajarkan di sekolah itu ndak salah, semuanya bermanfaat, cuma ada yang kurang..!, sekolah-sekolah di indonesia ndak ngajarin siswanya bagaimana cara menghadapi hidup. Maksutnya gini, seharusnya di sekolah kita juga di ajarkan, dan harus di praktikkan, bagaimana cara mengaplikasikan ilmu yang telah di pelajari untuk kemujuan hidup setiap siswanya, misalnya, diajarkan bagaimana menciptakan pekerjaan dari ilmu-ilmu tersebut, " pekerjaan yang menghasilkan tentunya", jadi ndak belajar-belajar tok, ngerti tok, tapi kalau di suruh guna'in ya tetap ndak bisa.  Taman SMP saja seharusnya sudah bisa punya kehidupan yang lebih baik.
Pola belajar di sekolah-sekolah indonesia itu mendidik muridnya untuk jadi tenaga pekerja, bukan pengusaha, atau seniman yang notabenya bisa menciptakan pekerjaanya sendiri dan ndak bergantung sama orang lain, Buktinya saat guru mengajarkan ilmu Akuntansi, atau ekonomi, ya cuma di kasih teori tok, selanjut di suruh ngerjakan soal, lebih seperti persiapan sebelum jadi kariawan, Ilmu bagaimana seharusnya memimpin perusahaan dan menjaga kestabilan keuangan ndak di ajarkan. Bagi yang STM, sama saja, teori, praktik, meskipun praktiknya lebih banyak, tapi tetap saja STM ndak ngajarin kamu gimana cara mendirikan sebuah bengkel yang berkualitas, yang di ajarkan cuma materi untuk bekal kamu kerja di bengkel.

Guru-guru seharusnya ndak sebatas ngajar tok, harus di inget, guru itu wali dari para pelajar saat di sekolah, seharusnya dia menjadi pendamping penuh atas siswanya di sekolah, memahami karakter serta problem dari setiap muridnya, kanapa yang ini bodoh, kenapa yang itu nakal, kenapa ada yang malas belajar, semuanya harus di fahami masalahnya, dan tugas guru juga untuk memotivasi muridnya agar tetap semangat belajar.

Setiap murid punya keluarga masing-masing dengan latar belakang yang berbeda-beda, ada murid yang telah di beri pencerahan oleh orang tuanya di rumah tentang gunanya sekolah sehingga dia semangat belajar, ada juga orang tua yang jor klowor, yang penting anaknya sekolah.
Guru ndak mahami ini, ada murid yang sudah punya tujuan, "mau jadi apa nanti setelah lulus" dari tujuan tersebut anak bisa semangat belajar bahkan tanpa di suruh, ada juga yang sekolah asal sekolah alias ndak punya tujuan, akibatnya proses belajar jadi sesuatu yang membebankan. Guru ndak mau ngasih suntikan inspirasi, supaya murid tau apa gunanya ilmu tersebut untuk masa depanya, yang di lakukan cuma ngajar-ngajar tok.

Proses belajar seharusnya ndak monoton, belajar seharusnya di barengi dengan bumbu imajinasi, biarkan murit bermimpi setinggi tingganya, mimpi itulah yang akan mendorong murid untuk terus belajar, tugas guru mendampingi, mengarahkan dan memberi inspirasi, dengan demikian proses belajar akan lebih menyenangkan, dan setiap murid tau mana ilmu yang seharusnya dia pelajari sungguh-sungguh sesuai phesionnya.

Rata-rata pelajar di indonesia itu hanya memburu ijaza tok, bukan ilmu, "sekolah, lulus, dapat ijaza, dapat kerja bagus", sudah cuma itu yang ada di otak mereka, karena anggapan mereka Ijaza adalah jalan satu-satunya untuk memperoleh pekerjaan yang baik, dengan hasil yang baik pula, padahal ndak demikian adanya, Mentri Kelautan Republik Indonesia Susi Pudjiastuti hanya tamatan SMP, buktinya dia bisa jadi Mentri,  bahkan banyak pengusaha sukses yang berlatar belakang pendidikan rendah.

Pendidikan di indonesia itu terlalu banyak teori, dan minim peaktek, akibatnya mereka hanya pintar teori tok, tapi nol jika di suruh mengaplikasikan ilmunya. Contoh sederhana yang nyata-nyata terlihat di sekeliling kita adalah, selogan Buang Sampah Pada Tempatnya, siapa yang ndak tau slogan itu, bukan orang indonesia berarti. Dari SD sampai Kuliah, slogan tersebut selalu di suarakan kepada pelajarnya, "Buang Sampah Pada Tempatnya, Jagalah Kebersihan", tapi ya mong teori tok, , prakteknya nol, sudah tau salah tetap saja buang sampah ndak pada tempatnya, meskipun mudah tapi tetap ndak bisa mraktekin.

Kenapa seseorang bisa semangat mempelajari sesuatu, meskipun susah, meskipun rumit, tetapi tetap berusaha memecahkan kerumitan tersebut demi mengertinya atas apa yang sedang di pelajari. Seorang kariyawan yang sudah bekerja puluhan tahun tiba-tiba risain karena habis baca buku, ada apa di dalam buku tersebut!, ada inspirasi yang meyakinkan dia dan menggerakkan hatinya untuk risain dan mendirikan usaha, meskipun susah payah akan tetap di perjuangkan itu usaha, karena dia tau di depan ada yang lebih menjanjikan di banding hanya sekedar menjadi kariawan.

Seorang prof. Habiebie belajr mati-matian tentang ilmu fisika, sains, dan matematika karena dia tau dengan ilmu tersebut dia mampu menciptakan sebuah pesawat.

Nah kenapa orang-orang diatas, sebegitu kuatnya dia berjuang, sebegitu hebatnya dia mempelajari sesuatu. Prof. Habiebie belajar keras bukan semata dia ingin dapat nilai bagus dan lulus dengan predikat terbaik, tetapi karena dia tau apa yang bisa dia ciptakan jika dia menguasai ilmu tersebut, dia punya tujuan, dan dia punya impian yang terus memotivasi dirinya untuk selalu belajar.

Tujuan adalah kunci seseorang mau belajar sesuatu, namun sayangnya hal ini ndak pernah diajarkan di sekolah-sekolah indonesia. Anak masuk sekolah langsung di kasih soal, di suruh ngafalin rumus dan lain sebagainya, tanpa ada pencerahan tentang ke gunaan dari ilmu tersebut. Seharusnya begitu masuk sekolah, yang pertama di lakukan adalah memberi pencerahan se gamlang-gamblangnya tentang ilmu yang akan di pelajari, dengan demikian murid akan tau kegunaan ilmu tersebut, akan tau apa yang bisa dia ciptakan dari ilmu tersebut, dengan demikian para murid akan tertarik untuk belajar dan punya alasan kenapa dia harus belajar.

Dorongan dan kemauan untuk belajar yang paling kuat itu datang dari diri sendiri, bukan orang lain, tetapi inapirasi dari orang lainlah yang menciptakan dorongan belajar dalam diri mereka. Bukan paksaan yang akan menjadikan murid rajin belajar, tetapi dorongan dalam dirinya sendirilah, maka sudah menjadi tugas guru  menciptakan dorongan tersebut di dalam diri setiap muridnya.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Popular Posts