Sistem Pendidikan Di Pesantren Ini Lebih Baik Dari Sekolah Sekolah Di Indonesia

Sistem Pendidikan Di Pesantren Ini Lebih Baik Dari Sekolah Sekolah Di Indonesia 



Pondok Pesantren Modern Gontor Ponorogo Jawa Timur, merupakan contoh keberhasilan mendidik para pelajar/santrinya, pondok pesantren ini tidak hanya mengajarkan ilmu agama saja, tapi juga ilmu ilmu yang juga diajarkan di sekolah sekolah formal di Indonesia, istimewanya adalah, pesantren ini  menerapkankan sistem pembentukan karakter untuk para pelajarnya, dengan cara yang berbeda dan mengedepankan keterbukaan.

Pondok pesantren modern gontor terkenal dengan penerapan disiplin, penguasaan dua bahasa asing (arap dan Inggris), kaderisasi dan jaringan alumni yang sangat kuat.
Walaupun sebagian ilmu yang diajarkan sama dengan pendidikan formal lainya, tapi ada beberapa kurikulum yang berbeda, dan sangat mempengaruhi pembentukan karakter berakhlakul karimah bagi manusia, pelajar tidak hanya diajarkan bagaimana menjadi orang cerdas, tapi juga di bimbing bagaimana caranya agar mereka bisa bermanfaat bagi sesama, kebermanfaatan itulah yang di sebut definisi orang besar menurut sang kyai.

Beberapa menu pendidikan yang tidak akan pernah kita temui di pendidikan formal di Indonesia, di luar lingkup dari materi agama adalah Ekstra kurikulernya, beberapa  diantaranya yaitu, Pidato 3 bahasa, penerbitan, seminar, praktek mengejar etiket/sopan santun.
Pesantren modern gontor sangat serius mengajarkan materi materi itu, mengingat sangat pentingnya hal tersebut untuk kehidupan bermasyarakat dan bekal bagi para santri nanti setelah lulus, untuk menghadapi dunia yang lebih luas, berbeda halnya dengan pendidikan formal di negara kita, hal-hal tersebut kurang di kembangkan, yang di utamakan adalah ilmu teori, akibatnya mereka akan bingung jika harus terjun ke masyarakat langsung, karena yang mereka tau hanya teori, prakteknya nol.

Beberapa alumni dari pondok pesantren modern gontor sudah banyak yang menduduki posisi penting di pemerintahan indonesia, tidak hanya itu, mereka juga lulus dengan menyandang mental pengubah, dalam artian mutu mereka adalah membangun umat, menggunakan ilmu yang mereka pelajari untuk kemaslahatan orang banyak, bukan untuk kesuksesan atau kesenangan individu semata.

Contohnya seperti, Abdul Rahman Muhammad Fachir (wakil menteri luar negeri), Adnan Pandu Praja (mantan wakil Ketua KPK), Idris Abdul Shomad (walikota depok), Para Pendri pesantren di seluruh Indonesia yang tidak bisa saya sebut satu persatu, para jurnalis di Indonesia, yang juga tidak bisa saya sebut satu persatu, Para Dekan di universitas universitas, dari mulai UGM, UIN, dan masih banyak lagi.

Ada salah satu alumni yang menarik untuk saya ulas lebih banyak dalam artikel ini, mengingat ia berhasil sukses, gara gara di paksa nyantri ke pondok pesantren modern gontor, walaupun awalnya ia masuk pesantren karena paksaan ibunya, tetapi justru pesantren tersebutlah yang membuka wawasan beliau, dan membuka sudut pandang beliau tentang hidup, semua kisah perjalanan hidupnya dari awal dia nyantri, sampai saat beliau bisa keliling dunia dengan modal 10 beasiswa sekolah luar negeri ia tuangkan dalam sebuah novel yang berjudul  Negri 5 menara ia adalah penulis Novel Triologi Menara, Ahmad Fuaddi.

Baca Juga, Yang Salah Dari Sistem Pendidikan Di Indonesia


Pria asal Sumatera barat tersebut mengakui, Pondok Pesantren Modern Gontor, berperan penting dalam merubah hidupnya hingga seperti sekarang ini, pemuda yang bercita cita ingin keliling dunia berkendarakan ilmu seperti pak habibie ini, awalnya menolak untuk masuk pesantren, tapi setelah di bujuk oleh sang ibu, ia akhirnya mau.

Awalnya sebelum ia mulai menimba ilmu di pesantren tersebut, ia sempat pesimis, baginya pesantren itu identik dengan kyai, sedangkan cita  citanya ingin seperti pak habibe, tapi justru di situlah pertamakali ia bertemu dengan orang orang dari seluruh Indonesia bahkan santri dari negara lain juga ada.

Beliau menuturkan, pendidikan di sini itu berbeda, kalau di tempat lain kita di suruh belajar teori tanpa keberlanjutan, di sini tidak begitu, setelah kita di kasih teori, kita juga di suruh praktek, lingkungan pesantren di jadikan perumpamaan negara kecil, kita juga akan di beri motivasi motivasi agar kita tergerak melakukan hal itu, bahkan tidak jarang ide ide luar biasa bisa keluar sendiri secara spontan. Inilah perbedaanya, kita belajar mengeksploitasi imajinasi dalam diri kita, kita akan tau bakat kita.

Seharusnya sistem pendidikan di indonesia juga di rubah seperti ini, agar setiap orang bisa mengembangkan bakat dalam dirinya, tidak di paksa harus bisa kimia, fisika, atau matematika, seandainya minat mereka bukan di situ, biarkan mereka cukup memahami saja, yang perlu di cari tau adalah, apa keinginan mereka, apa bakat mereka, lalu tuntun dan berikan motivasi, belajar akan lebih menyenangkan.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Popular Posts