Sebuah Penolakan Yang Halus


Berawal dari temanku yang ngojok-ngojokin saya supaya deketin temen perempuan dari calon istrinya dia, eh malah kedaden beneran.

Ini cerita sedih lo ya, jadi please.... Jangan ketawa .. Harus ikut sedih, biar keliatan rasa simpatiknya gitu.

Secara saya adalah seorang laki-laki yang sudah melalang buana di dunia asmara, sudah ngrasa capek pacaran, dan niatnya mau pensiun, cari satu prempuan buat masa depan, niat yang sangat mulia to, saya lo taubat jadi palyboy.

Tak di sangka, baru di tunjukin fotonya, saya langsung kesemsem, anaknya muanis, campur ayu, hidungnya mancung, kulitnya bersih, dan katanya kalem, rajin menabung, penyayang anak kecil, seorang sarjana dan guru pula, "sempurna batinku", fotonya sangat berbeda dari waktu jaman SD dulu.

Ini tergelong perempuan teristemewa yang pernah saya deketin, secara saya cuma lulusan SMA rek, anaknya pak tani pula, miskin iya, pinter enggak, cuma modal tampang, yang sekarang gantengnya sudah mulai luntur.

Berbekal pengalaman di dunia rayu merayu, tak mantepin langkahku buat ndeketin dia, pin bb sudah ada, nomor hp sudah ada, mantep, joss, modal sudah komplit.

Chat pertama di mulai, masih standar, jurusku belum tak pakai.
" malem yu"
" malem juga"
" lagi ngapain",.........................., luamaaaaaaaaaaaaaaa brooook,
mentok di situ, hpku sepi, tak tungguin sampek sejam gak bunyi-bunyi, tak tinggal maenan gitar, udah dua jam masih juga belum bunyi. Karena penasaran, tak lihat riwayat chatnya, ternyata statusnya "D", tanda kalau belum di baca, " ah mungkin lagi sibuk" pikirku.

Malem itu usaha saya berakhir di chat ketiga, karena rasa penasaran saya yang masih juga belom ilang, bangun tidur langsung tak lihat lagi riwat chatnya, ternyata berubah, statusnya jadi "R" sekarang, tanda sudah si baca, tapi ndak di bales, nyinyir aku, "ngenes batinku".

Ini prempuan beda dari perempuan kebanyakan, istimewa, ndak pasaran, punya prinsip, dan komitmen, luar biasa bener. Meskipun malem itu di cuekin, tapi sama sekali ndak nyurutin niatku buat ndeketin dia.

Paginya saya mutusin untuk berselancar di facebook, nyariin akun dia "(penasaran)", Ndak terlalu sulit buat saya nemuin akun dia, karena memang kita sudah berteman di sosmed sejak lama, hanya saja tidak pernah berkomunikasi.

Yang tak lihat cuma foto-foto unggahanya doang, " tambah mantep  saya", banyak foto-foto dia bersama anak-anak didiknya, terlihat sangat akrab, ndak salah kalau temanku bilang bahwa dia adalah sosok guru yang paling di sukai murid-murid di sekolah tempat ia mengajar, ia mengajar di sebuah TK di daerahnya.
Menurutku dia sosok yang dewasa, penyabar, penyayang anak-anak, dan cerdas, sungguh calon ibu idaman.

Usaha berikutnya terus berlanjut, chat demi chat saya lontarkan, tapi ya tetep saja, 2 sampai 3 kali cahat, mentok, gak ada respon lagi, "sungguh ngenes sekali". Hal serupa terus terjadi hingga 3 bulan, babarblas ndak ada kemajuan, bahkan ndak ada satupun telphonku yang di jawab sama dia, semua di biarkan begitu saja, sampai suara operator yang njelehi itu terdengar.

Hubungan saya sama dia masih gitu gitu saja, di bilang temen ya ndak kaya temen, sebatas rada kenal tok, padahal di Sd samapai SMP kita satu sekolah. "Duh gustii saya udah ngarep tenan padahal".

Oke, saya nyerah, saya butuh bantuan, berangkat dari sini, saya meminta bantuan calon istri dari teman dekat saya selaku sahabat dia,  dan kabar baiknya dia bersedia menjembatani niat tulusku ini.

Pandangan terang lagi, semangatku yang redup bangkit kembali, saya bersiap mengerahkan segala kemampuan untuk menculik hatinya.

Berbekal nasehat-nasehat dan petuah dari dua sejoli temanku tersebut dan di tambah ojok-ojokan supaya si dia mau membukakan hatinya untukku, saya memberanikan diri mengutarakan keseriusanku padanya, tanpa basa basi, saya mengungkapkan seluruh prasaan saya dan semua niat baik saya.

" aku pengen serius sama kamu, ntah apa dan bagaiman rasa ini tumbuh, aku ndak tau, aku yang bodoh ini masih belum bisa menemukan teori yang bisa ku jadikan alasan kenapa aku bisa suka sama kamu, kalau kamu berkenan, aku bersedia melamar kamu", Send.......***loadding****.. pesanku terkirim, mendarat mulus di hpnya.
Tak pantengin terus tu huruf "D" yang berada di ujung pesan yang saya kirim, dengan perasaan was was, dan gelagat yang cemas, saya berusaha sabar menanti jawaban darinya, beberapa saat kemudian status pesan berubah jadi "R", di bawah DP nya terlihat tulisan miring berwarna biru "sedang menulis pesan", tambah ndak jenak saya, dan..... " tulling", pesanku di balas, jawabanya singkat, padat dan ndak jelas apa arah serta maksut dan tujuanya, "mbulet tapi pasti"

"Biarkan waktu yang menjawab"
hanya tak baca tok, ndak sanggup saya membalas, ini adalah kalimat ra jelas, bernada lembut dan bermakna penolakan, intinya ndak mau.

Sedih, iya.. Kecewa pasti, tapi tetap tak terima dengan lapang dada, wajarlah saya di tolak"fikirku", saya ini terlalu berharap, dan lupa ngaca, saya ini siapa, pangkat saya apa, bodoh iya, kere apa lagi!!. Kok ya nekad ndeketin dia, yang jelas jelas cantik, berpendidikan, dan masa depan terang.



Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Popular Posts