Puisi Goresan Patah Hati, Mencoba Melupakanmu

Sebab melupakan adalah kerelaan yang diam-diam ku tangisi..
Biarlah ia menjadi bagian dari masalalu..
Pun, sebagai cerita paling sakit..
Kala kau berusaha merampungkan sesuatu yang tak pernah ingin ku selesaikan..

Walaupun aku selalu berucap dalam lisan..
Patah hati itu merupakan terbukanya cangkang pengertian..
Yang di dalamnya terdapat kebenaran..
Tentang cinta, kasih, dan sayangmu yang sebenarnya..

Tapi apalah daya hati ini, tak mampu membuka matanya dengan cepat untuk mengerti pelajaran hati..

Masih jelas ku ingat.. 
Syair lembutmu saat berkata-kata yang kemudian meluluhkan hatiku..
Saat semua begitu biasa saja..
Saat sebenarnya hati ini ragu akan sosokmu..
Kau sangat pandai memasuki ruang kesendirian ini..
Menaburinya dengan pupuk cinta..
Hingga bunga hati yang layu.. Perlahan bersemi kembali..

Lagi dan lagi..
Entah berapa kali..
Entah hingga berapa banyak..
Hati ini harus tersayat..
Apa sebenarnya aku yang tak mau membuka mata dan belajar..
Ataukah aku yang terlalu bodoh untuk mengerti..

Ku fikir semua yang kau tuahkan untukku.. 
Sudah cukup menggambarkan tentang dirimu..
Namun ternyata tidak..
Kau lebih kejam dari yang ku bayangkan..

Kini aku terpuruk karena dusta-mu..
Cinta bagi dirimu hanya khiasan semata..
Yang sebenarnya tidak pernah ada..

Kau tak pernah tau.. 
Betapa lamanya aku menyembuhkan luka yang pernah ada..
Kenapa kau datang hanya untuk pergi..
Kenapa kau bangunkan hanya untuk mematikan..

Semua berlalu begitu cepat..
Lenyap dalam sekejap..
Sesaat aku masih menyentuhmu..
Membelai rambutmu..
memanjakanmu..
Memandang wajahmu, senyummu begitu dekat..
Sangat dekat...
Hingga aroma tubuhmu tercium jelas..
Namun sesaat kemudian..
setelah senja datang, dan gelap menyelimuti..
Semua berubah..
Apa yang kita lalui, seperti tiada arti bagimu..

Karenamu aku tak lagi percaya akan cinta yang sebenarnya...
Apa benar di cinta itu ada..?
Aku tak pernah merasa..
Yang ada hanya mencinta.. Dalam.. Dan kemudian terluka...

Hatiku sakit.....
Amat terasa sakit ...
Betatapa hebatnya kau, masih bisa tersenyum lebar setelah apa yang kau berikan padaku..
Apa kau memang manusia tak berhati..
Atau mungkin sosokmu bukanlah manusia..
Hanya iblis yang menjelma menjadi bidadari..

Tuhan...
Damaikan hatiku dengan diri ini..
Tuntunlah langkahku..
Agar tak perlu lagi menemui orang-orang seperti dia..
Cukup dia.. Pelajaran yang kau turunkan untuk si bodoh ini..

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Popular Posts