Inspirasi, Belajar Dari Kesuksesan Andrea Hirata

 Belajar dari kesuksesan Andrea Hirata 

Sudah pernah baca Novel Laskar pelangi, Sang Pemimi, Endensor, atau Maryamah Karpove, yaps..  Semua itu adalah Novel Bast saller karya Andrea Hirata

Andrea Hirata lahir di belitung, tumbuh dan di besarkan oleh keluarga kurang mampu, tempat tinggalnya dulu terletak di dekat perusahaan timah milik negara yaitu PT Timah tbk.

Hirata memulai pendidikan tinggi dengan gelar di bidang ekonomi dari Universitas Indonesia, kemudian Ia mendapat beasiswa dari Uni Eropa , di Uni Eropa ia mengambil program master, yang pertama di Universitas Paris, Yang kedua di Universitas Sheffield Hallam di Inggris.


Tesis Andrea Hirata di bidang ekonomi telekomunikasi mendapat penghargaan dari universitas tersebut dan yang luar biasanya ia lulus dengan predikat cum laude.
Tesis karyanya tersebut telah diadaptasikan ke dalam Bahasa Indonesia dan merupakan buku teori ekonomi telekomunikasi pertama yang ditulis oleh orang Indonesia.

Beberapa penghargaan luar biasa yang pernah ia dapat diantaranya adalah,
Pemenang BuchAwards Jerman 2013 
 Pemenang Festival Buku New York 2013 (General fiction category) 
Honorary Doctor of Letters dari Universitas Warwick 2015. 

Perjalanan hidup andrea hirata menuju kesuksesan sangat sangat menginspirasi, bagi kamu yang pernah baca Novel Laskar pelangi atau nonton filmnya, tentu sudah tau. Isi novel tersebut terinspirasi dari kisah hidupnya.

Melihat lingkungan di sekeliling yang cukup memprihatinkan, ia bertekad tidak ingin bernasip sama seperti orang orang di sekelilingnya, maklum Belitung di masa dia dulu adalah daerah yang tertinggal, dari segi pendidikan, insfrstruktur, dan ekonomi, meskipun belitung merupakan salah satu pulau terkaya di dunia, tetapi kehidupan masyarakat setempat sangat berbanding terbalik dengan julukan daerah tersebut.


KISAH PERJALANAN HIDUP ANDREA HIRATA 

Setelah menyelesaikan pendidikanya hingga tamat SMA, dia memberanikan diri merantau ke jakarta. Hanya ada dua tujuan yang ada di benaknya saat itu yaitu menjadi seorang penulis dan melanjutkan kuliah. Hirata kecil berangkat dari bitung menuju jakarta dengan menumpang kapal laut, sesampainya di Jakarta, Andrea naik bus menuju daerah Ciputat, sesuai saran sang nakhoda kapal. Sayangnya, saat itu dia salah naik bus. Bukanya naik bus jurusan Ciputat Hirata kecil justru naik bus jurusan Bogor.
Mungkin Tuhan sudah menakdirkan jalanya begitu, akhirnya Hirata malah jatuh cinta dengan kota hujan dan mencoba tinggal disana.
Petualangan hidup Hiratapun dimulai dari sini. Hirata mencoba mencari pekerjaan. Setelah melamar kesana-kemari, akhirnya iapun berhasil diterima bekerja sebagai penyortir surat di kantor pos Bogor. Pekerjaan tersebut terus ditekuninya dengan serius. Beliau berusaha hidup sehemat mungkin dan menabung untuk masa depannya. Uang hasil tabungannya kemudian dia pergunakan untuk mendaftar kuliah di Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia (UI). Kerena Hirata memang anak yang cerdas akhirnya ia berhasil diterima kuliah disana, satu mimpinya telah terwujud.

Saat bencana tsunami melanda aceh, Andrea menawarkan diri menjadi seorang relawan. Saat itu ia melihat betapa henatnya akibat dari tsunami tersebut. Banyak mayat-mayat bergelimpangan, infra struktur hancur termasuk sekolah-sekolah. Saat melihat kejadian tersebut, Hirata teringat masa lalunya yang pernah menimba ilmu di sebuah sekolah di daerah terpencil, di  kampung daerah Belitong dan kondisi gedungnya sekolahnya dulu juga sudah hampir runtuh.
Bayangan wajah guru yang sangat dihormatipun muncul dalam benaknya, Bu Muslimah. Dia ingat dengan janji yang pernah di ucapkan ketika masih duduk di kelas 3 SD, bahwa dia berkeinginan untuk menulis sebuah buku tentang kisah hidup sang guru. Apalagi dia mendapat kabar dari teman sekolahnya di Belitung mengenai kondisi gurunya yang sedang sakit.
Sekembalinya dari Aceh, Andrea pun langsung menulis kisah hidup gurunya tersebut. Hebatnya, hanya dalam waktu 3 minggu dirinya berhasil menyelesaikan tulisan setebal 700 halaman. Naskah itu lalu dijilidnya sendiri dan dijadikan sebuah buku.

Di satu waktu, laptop Hirata tertinggal di kamar kosnya, kemudian ia meminta bantuan salah seorang temanya untuk membawakan laptopnya tersebut. Namun sebelum  membawa laptop tersebut, temanya malah membuka laptopnya dan secara tidak sengaja ia menemukan sebuah folder yang isinya naskah novel Laskar Pelangi karyanya. Rekannya kemudian meng-copy filenya, dan kemudian membacanya di tempat lain, temanya tersebut merasa tertarik dengan jalan cerita dalam naskah tersebut dan secara diam-diam tanpa sepengetahuan Hirata,  ia mengirimkan naskah tersebut ke Penerbit Bentang. Ternyata penerbit menyambut baik dan bersedia menerbitkannya.
Keajaiban pun mulai berpihak ke Andrea Hirata. Sejak lounching buku tersebut pada Desember 2005, penjualan novel Laskar Pelangi melesat tajam. Hanya dalam waktu seminggu, buku tersebut laris manis. Sejak saat itu Laskar pelangi menjadi buah bibir masyarakat dan nama Andrea Hirata langsung meroket. Hanya dalam waktu setahun penjualan novel Laskar pelangi sudah mencapai 200 ribu eksemplar. Kini, buku ciptaan Andrea Hirata tersebut sudah dicetak lebih dari satu juta eksemplar dan sudah diterjemahkan ke dalam 18 bahasa dan diterbitkan oleh Penerbit Hanser-Berlin di Jerman dengan judul “Die Regenbogen Truppe”. Sementara itu buku yang sama diterbitkan di Australia dan Selandia Baru dengan judul “The Rainbow Troops”. Masih banyak nama lain dari Laskar Pelangi yang sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing lainnya. Sampai saat ini buku tersebut sudah diterbitkan di 33 negara di dunia.

LASKAR PELANGI 

Laskar Pelangi  bercerita tentang petualangan menimba ilmu 10 Murid sekolah dasar yang bersekolah di SD Muhammadiyah daerah Belitung. Kesepuluh anak tersebutlah ‘Laskar Pelangi’. Ada 2 karakter yang di tonjolkan dalam novel tersebut, yaitu Mahar dan Lintang. Mahar diceritakan sebagai anak yang sangat kreatif, berani melawan arus, pekerja keras dan gigih. Sedangkan Lintang, pemuda berkulit gelap, cerdas dan sangat bersemangat dalam menimba ilmu walaupun harus bersepeda sejauh10 km untuk sampai di sekolahnya.

Di Novel tersebut, Andrea juga menceritakan tentang keuletan gurunya yaitu Bu Muslimah dan kepala sekolahnya.
****

Saat di tanya mengenai sosok guru yang luar biasa itu, Andrea Hirata menjawab,
“Kesan yang paling membekas dalam ingatanya adalah bagaimana beliau (Bu Muslimah) selalu berhasil membuat kami murid-muridnya untuk mencintai ilmu. Dengan beliau, mata pelajaran apapun tidak pernah menjadi beban. Pekerjaan rumah adalah hiburan, ujian adalah petualangan dan tantangan yang menyenangkan”.

Ini Kunci Suksesnya Mas Ippho Santosa



Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Popular Posts