Gadget Penggerus Kebudayaan



Walaupun saya cuma lulusan SMA sederejat, tapi kali ini izinkan saya untuk beropini agak diplomatik, saya mau memposisikan diri saya sebagai pengamat teknologi menggantikan Bpk. Ridwan Sanjaya.
Izinkan saya berbicara tentang dampak gadget yang sekarang sudah merubah peradaban zaman, "maafkan atas kelancanganku ini ya pak, telah menggantikanmu tanpa izin, barangkali kamu lelah, jadi biar aku yang ndewo sekarang".

Pertumbuhan teknologi tidak bisa di bendung, menjangkit setiap orang di indonesia, bahkan virusnya sudah merambah ke anak-anak, hingga ke plosok-plosok desa, termasuk desaku tercinta, srigading, lampung timur. Menanggapi hal itu, saya tidak bisa tinggal diam, saya harus bicara, saya tindak mungkin menunggu Bpk. Ridwan sanjaya bicara, beliau terlalu sibuk.

Gadget sekarang telah menggerus permainan-permainan tradisional di indonesia. Permainan yang dulu tak anggep kampungan, tapi karena sekarang udah agak pinter, jadi tau, bahwa itu semua adalah kekayaan negara kita tercinta, yang hanya ada di indonesia, negara lain gak ada, kalaupun ada, yo pasti njiplak, seperti kasus reok ponorogo yang di klaim malaisya.

Di zaman sebelum berdirinya Republik hingga tahun 2000-an, permainan-permainan tradisional masih sering di jumpai di berbagai daerah di indonesia, masih banyak anak-anak sekolah dasar yang menghabiskan waktu istirahatnya untuk bermain slokdor, ingkleng, atau sekedar main kelereng. Tapi sejak adanya gadget, perlahan merubah kebiasaan mereka jadi kurang aktif dan lebih memilih bercumbu bersama gadgetnya masing-masing, "eranya Game online".



Gadget tidak sepenuhnya buruk, aku tidak bisa langsung nge-judge gadget seperti itu, biar bagaimanapun benda itu di ciptakan dengan berbagai pengamatan dan pertimbangan para ahli, dan saya tau persis, akan selalu ada sisi negatif dan positif dalam setiap penemuan atau trobosan, begitulah hukum alam berbicara. Walaupun posisi saya sekarang adalah pengamat, dan kalian cuma pembaca, yang posisinya masih di bawah saya, saya tetap tidak boleh berbicara asal dan ndak berlandasan.

Gadget memang telah memudahkan manusia, saya akui itu, karena saya juga salah satu pengguna, tetapi yang jadi permasalah adalah, pemerintah telah jor klowor membiarkan si gadget ini sampai ke tangan siapa saja, ternasuk anak-anak. Ini yang ndak bisa di biarkan, anak-anak jadi terbawa arus ke barat-baratan, melupakan tradisi, dan yang lebih memprihatikan, rasa cintanya kepada permainan-permainan tradisional sudah ndak ada, "doohh biyongg,,,!! Mirisss sekali ini", gimana mau cinta coba, wong di sekolah gak di tanamkan kecintaan terhadap budaya kok, yang di jojong cuma fisika,kimia,matematika!, kalau seni budaya, arep biji jeblok jugak, lek panggah lulus saja sekolahnya,
"Hadehhhh....", pak guru, bu guru engkang sae, pangapunten nggeh", budaya ini milik kita loo, kekayaan kita, lah kalok nanti pada di klaimin sama negara lain gimana, baru kebakaran jenggot, ndak trima, ngamok, ganyang malaisya lagi katanya.

Bulle aja suka, banyak orang-orang bulle yang justru berusaha melestarikan ini semua, jangan sampai, kekayaan kita ini, yang sudah bikin berjuta pasang mata di dunia tertarik ingin melihat, berakhir jadi sebuah cerita di dalam buku sejarah.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Popular Posts