Dilema Saat Mudik Idul Fitri

Bagi seorang perantau, mudik sudah menjadi tradisi tahunan. Hari raya idul fitri yang bermakna sebagai hari kemenangan umat muslim sudah seharusnya menjadi hari yang sangat di nanti-nanti, bagi sebagian orang memang iya, tapi tidak untuk saya.

Beberapa tahun terakhir ini tradisi mudik menjadi ndak menyenangkan lagi buat saya, karena umur saya yang sudah menginjak 25 tahun, dan status jomblo yang saya sandang membuat tradisi pulang kampung tahunan ini jadi agak berbeda.

Nglencer atau halal bi halal keliling kampung dari satu rumah kerumah lainya merupakan tradisi di kampung saya yang terletak di daerah lampung timur kec. labuhan maringgai, tradisi inilah yang membuat saya minder mau keluar rumah, rasanya sehabis sholat ID pengenya ndekem saja di kamar. Bagaimana tidak, pemuda seumuran saya di daerah ini sudah punya istri semua, malah ada yang sudah punya anak.

Saat teman-teman seumuran saya sudah pada punya gandengan sendiri-sendiri untuk nemenin halal bihalal, nah saya, masih saja sendirian, dan ini merupakan tahun ketiga saya sendiri," doh gusti, ngenes sekali aku", Kebayangkan, kalimat-kalimat apa yang akan datang menyerang saya, di tambah saya ini sudah di dahului oleh adik saya sendiri.

Kapan nikah...?
Kamu tu sudah tua loo...?
Sudah jadi pakde kok ndak nikah-nikah..?
Kenapa mereka kok kober-kobernya nanya seperti itu ke saya, apa ndak ada kalimat lain, kalau sudah waktunya, ndak perlu nanya juga saya kasih tau to, memangnya kenapa kalau sudah jadi pakde, ndak ada yang salah kan, dasar wong ndeso.



Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Popular Posts