Alam Dan Segalanya Tentang Hidup


Segalanya Tentang hidup
Hidup memang tidak ada yang sempurna, namun hidup akan tetap indah dengan caranya sendiri, bahkan saat kita berdampingan ataupun berteman sepi.

Alam dan seisinya mengajarkan banyak hal tentang hidup.

Tentang Hujan...
ia bahkan tak sempat memilih, ingin jatuh dimana, di jalanan, sungai-sungai, atau kebun, seandainya hujan bisa memilih, mungkin ia lebih senang, bila harus jatuh diatas bunga-bunga, dan iapun tak pernah bisa memilih, dari awan mana ia jatuh, serupa dengan kita manusia, yang tak pernah  bisa memilih, di lahirkan dari rahim siapa, berkulit apa?, hitap, putih, kuning, atau sawo matang, berambut ikal, kriting atau lurus, berhidung mancung atau pesek.

Seandainya kita bisa memilih, mungkin kita akan lebih senang jika di lahirkan dari rahim seorang ningrat, pejabat, atau pengusaha, atau bisa saja sebaliknya. Begitulah manusia, yang terkadang tak menerima keadaan, berbeda dengan hujan, meskipun ia jatuh di jalanan ia akan tetap terlihat indah, membentuk mahkotanya, dan menyerap satu titik yang rapuh, sebelum terinjak bahkan tergilas.

Tentang senja...
Kilaunya memukau siapa saja yang melihat,
Senja adalah sebuah pembatas antara siang dan malam. Senja adalah pemisah, agar keduanya tidak berjumpa. Senja, sebuah penanda berakhirnya cerita. Hadirnya seperti sebuah kata pinta agar sang mentari segera menggelamkan dirinya. Membuat cahaya mentari itu meredup dan membiarkan awan menjadi penguasa sang langit.

Senja adalah satu dari titah-Nya, tak ada satupun yang dapat menolaknya. Bahkan senja itu sendiri pun harus menerima. Hadirnya bagai pengundang sang pelukis dunia yang namanya tersohor dimana-mana, yang mampu melukis warna sang langit berwarna jingga. Hingga setiap mata yang melihatnya pasti begitu terpesona.


senja adalah akhir dari sebuah hari, membuat apa-apa yang telah terjadi menjadi sebuah rangkaian cerita yang terususun rapi. Seperti puzzle yang harus dirangkai agar terbentuk rupa yang dapat dikenali, kisah-kisah dihari itu yang akan menjadi kenangan dikemudian hari.
Senja yang setelahnya tentu sang malam akan tiba. Sang langit tak lagi peduli pada mentari yang telah pergi, sebab ia hanya peduli pada perjumpaannya dengan sang rembulan. Walau begitu, senja tak pernah marah, ia hanya sunyi. Menyembunyikan segala ceritanya sendiri, entah bahagia atau luka.

Senja mengajarkan kita menghargai rasa sunyi dan sepi. Tidak selalu kita akan bersama orang yang kita pilih. Tidak selalu orang yang kita pilih juga memilih kita. Terkadang Tuhan membuat apa-apa yang begitu kita sayang pergi, bukan karena Tuhan tak peduli. Bahkan Tuhan lebih peduli melebihi diri kita sendiri, melebihi apa yang kita perkirakan.
(dikutip dari:hipwe.com)

Untuk sajak-sajak berkutnya akan saya update segera, bagi yang ingin berlangganan, silahkan isikan email, semua gratis..!!

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Popular Posts