Kisah Inspiratif, Susah Payah Jadi Sarjana Pemuda Ini Memilih Jualan Ikan Goreng

Kisah Inspiratif, Susah Payah Jadi Sarjana Pemuda Ini Memilih Jualan Ikan Goreng
Bukan hanya sarjana, dia juga telah bekerja di sebuah perusahaan migas nasional dengan gaji tinggi, tapi kemudian ia memilih berhenti dan memulai usaha jualan ikan goreng.

Kebahagiaan terkadang tidak selalu diukur dengan uang, ini adalah kisah yang sangat inspiratif, dan saya yakin akan memotivasi sobat semua, kisah ini datang dari seorang pria bernama Aang Permana, pemuda asal ciaunjur jawa barat  berusia 26 tahun, dia lahir dari keluarga yang kurang mampu, bahkan ayah handanya sempat jadi tukang tambal ban, dan pernah jualan mainan anak keliling kampung.

Meski keadaan ekonomi keluarga serba kekurangan, ia tetap mampu menyelesaikan pendidikanya  hingga mendapat gelar sarjana perikanan di IPB, setelah lulus kemudian ia di terima bekerja di sebuah perusahaan migas nasional, tapi yang mengherankan, Aamg permana malah memilih meninggalkan status yang sudah bisa di bilang mapan tersebut, dan lebih memilih menjadi penjual ikan goreng, nah menarik bukan, apa yang menyebabkan Kang Aang permana tersebut memilih jadi penjual ikan goreng ?,, Simak kisah selengkapnya ya sob…


Aang permana lahir dari keluarga yang sangat sederhana, bahkan untuk sekolahpun dia harus berjuang keras, daya juangnya sudah terlatih sejak kecil, hal itu dapat di lihat dari cara ia berupaya agar tetap bisa bersekolah, untuk dapat menyelesaikan pendidikanya hingga tamat SMA, Aang Permana harus belajar ekstra, agar dapat menjadi murid yang pintar, karena di masa ia sekolah belum ada dana BOS seperti saat sekarang ini, jalan satu-satunya Aang Permana harus menjadi murit pintar agar dapat memperoleh SKTM ( Surat Keterangan Tidak Mampu ), berbekal surat sakti tersebut dia berhasil menyelesaikan pendidikanya hingga tamat SMA di sebuah sekolah Negri milik Pemkot Jawa Barat, semua biaya di tanggung pemerintah, dari mulai makan, pakaian, perlengkapan sekolah, sampai asrama tempat dia tinggal.
Setelah Tamat SMA, Aang sempat tidak ingin melanjutkan jenjang pendidikanya ke bangku kuliah, melihat keadaan keluarga yang  di rasa tidak akan mampu menunjang  biaya kuliahnya nanti. 

Tapi kemudian dia berubah fikiran, setelah melihat bagaimana ayahnya bekerja mencukupi kebutuhan makan sehari-hari untuk keluarga, ia merasa miris, dan kemudian ingin merubah perekonomian keluarga, ia beranggapan bahwa pendidikan adalah salah satu cara terbaik untuk memutus mata rantai kemiskinan, berawal dari titik itulah, Aang permana bertekat untuk kuliah dan menyelesaikan kuliahnya.

Dia memberanikan diri mendaftar sebagai calon mahasiswa di IPB tanpa sepengetahuan orang tuanya, lagi-lagi karang terjal mencoba menghentikan tekatnya, setelah menyelesaikan semua persyaratan pendaftaran, Aang permana di wajibkan melunasi biaya administrasi sebesar 2,8 juta, dan pada waktu itu dia hanya memegang uang sejumlah 400 ribu saja, akibatnya Aang Permana di arahkan untuk menyelesaikan masalah tersebut di bagian Meja Kasus Kampus IPB, di dalam ruangan tersebut, dia sempet merasa putus asa, dan berfikir  ingin menyudahi usahanya ini kemudian pulang ke rumah. Namun tuhan maha baik, keajaiban terjadi disitu, Aang permana bertemu Ibu-Ibu yang mengurus bagian biasiswa, dia di sarankan untuk membayar administrasi sebagian dulu, sisanya bisa nyusul nanti, dengan uang seadanya dia memberanikan diri untuk mencoba.

Dengan langkah penuh keraguan Aang permana menuju bagian administrasi , karena yang ia punya hanya 400 ribu, jadi yang ia sodorkan hanya sejumlah 200 ribu saja, dan anehnya si petugas administrasi langsung menerima,  kemudian bilang “ yaudah, inikan kamu udah bayar, kurangnya tinggal sedikit lagi bisa kamu lunasin nanti”, uang 200 ribu yang ia sodorkan seperti terlihat 2 juta di mata petugas, ( begitu kata Aang Permana saat di wawancarai bang Andy, di acara Talk Show Kick Andy.

Ini satu pelajaran untuk kita semua, bahwa tuhan bisa merubah apapun dengan cara yang tidak terduga, dan tidak masuk dalam akal nalar manusia.

Sisa uang yang ia punya kemudian ia belikan kue-kue kering dan dia jual kembali ke teman-teman kampusnya untuk mencukupi kebutuhan hidup di kampus, meskipun tekatnya sangat luar biasa, namun Aang Permana tetaplah pemuda biasa yang punya rasa malu, nah untuk menutupi rasa malunya saat jualan di kampus tersebut, dia punya trik, karena dia adalah mahasiswa yang aktif di organisasi, dia selalu mengaitakan organisasinya tersebut saat menawarkan jualanya, dia bilang bahwa kue-kue tersebut untuk himpunan dana usaha, alhasil para mahasiswa di IPB antusias membeli, dan dia juga gak malu-malu amat jadinya.


Hal tersebut terus berjalan hingga ia lulus dan mendapat gelar sarjana, saat semasa kuliah tak kurang dari 8 biasiswa ia dapat.

Setelah lulus Aang Permana di terima bekerja di sebuah perusahaan  migas nasional, dengan gaji besar dan fasilitas yang mendukung. Tugas Aang permana di perusahaan hanya sebagai penyurve lokasi kelautan di Indonesia yang berpotensi mengandung migas, dari aceh sampai papua. 
Saat ia menjalini rutinitasnya, Aang permana kerap menjumpai ikan-ikan kecil yang tertangkap nelayan, jumlahnya cukup banyak, namun tidak di manfaatkan, dan ternyata di daerahnya juga ada, namanya ikan petek, dari situ fikiran wirausahanya mulai tumbuh. 

Di satu titik kang Aang Permana merasa, kok hanya saya sendiri yang nikmatin ini semua, saya bisa sekolah, saya bisa kuliah hingga jadi sarjana, saya bisa kerja di perusahaan besar, semua berkat orang banyak, tapi sekarang saya merasa apa yang saya capai ini tidak bermanfaat untu orang-orang di sekitar saya.
Dari renungan tersebut ,dia memtuskan untuk berhenti bekerja,dan  pulang ke kampung  halaman kemudian mulai memanfaatkan ilmunya untuk kemaslahatan orang banyak.

Keputusanya untuk keluar dari perusahaan tersebut awalnya tidak di setujui oleh kedua orang  tua, namun Aang Permana dengan yakin mengatakan “ saya akan buktikan kepada ibu bapak, kalau ini adalah pilihan  terbaik untuk hidup saya “, tanpa mengerti sediktpun ilmu tentang bisnis, ia tetap memberanikan diri.

Berbekal ilmu perikanan yang ia dapat semasa kuliah di IPB dulu, serta uang 3 juta rupiah, Aang permana bertekat membangun usaha ikan goreng berbehan dasar ikan petek yang banyak di jumpai di waduk cirata di daerahnya, dengan memanfaatkan alat penggorengan seadanya yang berada di rumah, dibantu oleh sang ibu, Aang Permana mulai memproduksi Ikan Goreng petek tersebut.

Karena dia sama sekali tidak mengerti bisnis, alhasil awal dia mulai menjajakan produknya tersebut ke toko-toko oleh-oleh khas cianjur yang banyak di jumpai di daerahnya, hanya beberapa saja yang mau menerima.


Aang permana tidak putus asa, berbekal ilmu yang ia punya dan hasil tes laboratorium tentang kandungan gizi dari ikan tersebut, ia kemudian mulai prospek para pemilik toko agar yakin dengan produk yang ia tawarkan.

Perjalananya membangun usahanya tidaklah mudah, dari yang awalnya ikan goreng hanya di bungkus plastik dan di bakar dengan lilin, semakin berjalan kesini mulai banyak masukan dari orang-orang di luar sana, yang tadinya pakai plastic kemudian di bikinkan bungkus yang menarik, di buatkan brand, dan izin usahanyapun di daftarkan ke bapeti. Berkat tekat yang kuat dan keinginanya memperbaiki perekonomian di daerah sekitar tempat tinggalnya, Aang Permana kini telah berhasil bermanfaat bagi orang-orang sekitar.

Usahanya kini di beri nama Crispy Ikan Sipetek, saat ini omsetnya sudah mencapai ratusan juta rupiah perbulan, dan berkat usahanya tersebut ia mampu mempekerjakan para ibu-ibu rumah tangga di daerahnya dengan gaji UMR.#sumber-Kick Andy


Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Popular Posts